Home / Inspirasi Hidup /

Fast Forward Muharram

Muharram-Mubarak

Fast Forward Muharram

by Urip Budiarto

Pernah menonton film berjudul “Click” yang dimainkan oleh Adam Sandler? Film komedi ini bercerita tentang seorang ayah yang memiliki sebuah “remote kehidupan” ala remote televisi. Dengan remote pemberian malaikat ini, dia bisa percepat proses kehidupannya, atau mundur ke waktu lampau.

Malas lihat istri marah, klik tombol “fast forward” sampai istri selesai marah. Malas menyelesaikan kerjaan numpuk, klik lagi “fast forward” ke posisi waktu pekerjaan selesai. Malas hubungan seks sama istri, bahkan juga dia klik “fast forward” ke menit selesai hubungan (yang padahal gak lebih dari 4 menit *lol). Asyik juga ya.

Permasalahan muncul saat si remote kehidupan ini digunakan untuk mengatasi lamanya proses promosi kerja dia. Di klik lah tombol “fast forward” hingga 6 bulan ke depan dimana telah sampai promosi jabatan baru. Dengan fast forward 6 bulan ini, si remote kehidupan mengaktifkan fitur “auto response” atas kondisi kehidupan walau tidak diklik. Hingga pada akhirnya, sampailah sang tokoh utama pada usia tua tanpa bisa mengingat bagaimana pertumbuhan anak-anaknya, kapan orangtuanya meninggal, bahkan istrinya telah minta cerai dan menikah dengan orang lain. Alhasil, meninggal dengan penyesalan.

Tapi itu belum akhir ceritanya. Kalo mau tahu akhir ceritanya, silahkan tonton sendiri yaa.

Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali mereka orang-orang yang beriman, dan melakukan amal sholeh, dan saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran. (QS Al Ashr: 1-3)

 

Hadirnya 1 Muharram yang Allah hadirkan hari ini menjadi pengait yang menarik atas cerita film itu. Muharram 1436 terasa baru kemarin. Hari ini, angkanya telah berubah menjadi 1437. Kok cepet banget ya? Padahal ada 24 jam sehari 7 hari seminggu yang kita jalani detik demi detik. Punya perasaan yang sama?

Saya berasumsi, perasaan yang timbul ini sebenarnya bukan masalah waktunya. Tetapi, rasa kehilangan waktu yang terbatas dalam mencapai target-target yang pernah kita resolusikan di tahun sebelumnya.

Target beli kendaraan, belum bisa. Target beli rumah, belum bisa. Target naik jabatan, belum kesampean. Target nikah, boro-boro, gebetan aja belum ada. Dan sebagainya.

Atau mungkin juga lebih religius. Pingin berangkat umroh, ngisi tabungan kalah rutin sama cicilan motor. Pengen sholat rutin berjamaah di masjid, masih bolong-bolong. Pengen rutin puasa, banyakan nggaknya. Pengen rutin tahajud, banyak kelewatnya. Pingin hapal juz’amma, masih kalah urusan kerjaan.  Pingin rutin dhuha, masih sering kalah sama lelah macet berangkat kantor. Dan masih banyak lagi.

Gambaran berlawanan antara target alias keinginan alias resolusi dengan realita inilah yang memunculkan perasaan “kok cepet ya?”.

Baguslah kalau self talk ini kemudian bisa muncul. Kemana saja kita setahun kemarin sampai-sampai si target-target ini banyak gak tercapai? Apa saja  yang sudah kita lakukan untuk memastikan semuanya tercapai? Atau jangan-jangan, malah belum kita lakukan prosesnya? Banyak alasan? Banyak penundaan? Apakah yang membuat penundaan itu lebih penting dari target-target kita?

Self talk ini akan menjadi pemicu semangat perubahan pola ikhtiar dalam mencapai target-target tahunan yang kita resolusikan. Adalah keberuntungan saat kita yakin tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya sebagaimana sabda Rasulullah. Bukan sebaliknya, karena berarti termasuk bagian orang yang Celaka.

Cukup Bang Cemen yang punya ini: “Resolusi saya tahun ini adalah melakukan resolusi saya tahun lalu yang sudah saya buat sejak 3 tahun yang lalu dan seharusnya sudah saya kerjakan sejak 7 tahun lalu”.

Semoga kita lebih baik saat Muharram 1438 depan Allah hadirkan. Penuh dengan catatan-catatan pencapaian target. Penuh dengan rasa puas bahwa tahun 1437 sudah kita lalui dengan penuh ikhtiar, tawakal dan kesabaran.

Salam Kaya Berkah!

 

Share this article

Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *